Coba jujur: kamu tahu nama kakek buyutmu? Tahu dari mana marga ibumu berasal? Kalau jawabanmu "tidak begitu tahu", kamu tidak sendiri. Ini adalah masalah yang dialami hampir semua anak muda Batak yang besar di perantauan.

Identitas yang perlahan terputus

Generasi orang tua dan opung kita besar di kampung, dikelilingi keluarga besar dan percakapan sehari-hari yang penuh istilah kekerabatan. Tarombo bukan sesuatu yang perlu dihafal khusus — ia hidup dan diwariskan lewat interaksi sehari-hari.

Generasi yang besar di kota besar berbeda. Sekolah campuran, teman dari berbagai latar belakang, jarang mendengar percakapan soal tarombo apalagi mempraktikkannya. Hasilnya:

  • Baru sadar "buta tarombo" justru saat momen penting — pesta adat, pemakaman, atau pertemuan keluarga besar
  • Bergantung terus ke orang tua untuk menjelaskan "kita ini siapa sama siapa"
  • Kehilangan informasi begitu generasi tetua sudah tiada

Ini bukan salah siapa pun — konsekuensi wajar dari urbanisasi dan perantauan. Tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.

Kenapa ini perlu dibenahi sekarang, bukan nanti

Generasi tertua adalah sumber informasi yang tidak tergantikan. Orang tua, tulang, nantulang, dan opung adalah "database hidup" dari tarombo keluarga. Begitu mereka berpulang, sebagian besar nama, hubungan, dan cerita di baliknya hilang selamanya — kecuali sudah dicatat lebih dulu.

Identitas budaya butuh sesuatu yang konkret untuk dipegang. Rasa bangga jadi orang Batak jadi lebih bermakna ketika kamu benar-benar tahu dari mana asalmu — siapa opungmu, desa mana asal keluargamu, dan posisimu dalam keluarga besar.

Anakmu kelak akan bertanya, dan kamu perlu punya jawaban. Kalau hari ini saja kamu kesulitan menjawab "kita marga apa dan asalnya dari mana", generasi anak-anakmu nanti akan lebih jauh lagi dari akar budaya itu.

Bukan hanya soal mencatat data — ini soal memastikan identitas dan cerita keluargamu tidak hilang ditelan waktu.

Mulai dari langkah kecil

Memperbaiki ini tidak harus dimulai dengan riset besar-besaran atau pulang kampung khusus. Cukup mulai dengan mencatat apa yang kamu dan orang tuamu sudah tahu: nama lengkap orang tua dan kakek-nenek, marga dan asal kampung, serta hubungan dengan kerabat yang sering muncul di acara adat.

RumpunKu dirancang untuk membuat proses ini terasa ringan, bukan seperti tugas riset. Kamu bisa mulai membangun pohon keluarga digitalmu sedikit demi sedikit, dan sistem akan otomatis menghitung partuturan-mu dengan anggota keluarga lain yang terhubung — tanpa perlu menghafal apa pun.